by

Bagaimana Konsep “KERJA” Dalam Sudut Pandang Kristen?

DALAM ALKITAB, sejak awal penciptaan Tuhan telah memberikan mandat dan tanggung-jawab bagi manusia untuk bekerja menata, mengolah dan memelihara dunia ini agar tetap utuh dan indah sebagaimana pada awalnya, yaitu “sungguh amat baik” (Kejadian 1-2). Dalam melaksanakannya, manusia diberi kebebasan dan kemandirian; tetapi pada pihak lain diminta pertanggung-jawaban oleh Allah.

Pekerjaan sebagai Pegawai Negara adalah sebuah panggilan dan pengutusan, dan dalam Perjanjian Lama mereka disebut dengan “ebed Yahwe” (hamba Allah)[5] yang terpanggil dan diutus melayani masyarakat (umat Tuhan) dan menjaga kesatuan serta kemandirian Negara. Para pemimpin (terutama Raja) sering disapa sebagai “hamba” bahkan dalam Mazmur 2 disebut sebagai “Anak Allah”. Mereka dipanggil dan diutus untuk memimpin umat agar tetap setia kepada Tuhan dan beroleh “Damai Sejahtera”. Untuk itu maka Taurat dan berbagai hukum diberikan sebagai pedoman dalam melaksanakan tugas dan dalam menegakkan kebenaran serta keadilan di tengah masyarakat. Itulah sebabnya, rakyat diminta untuk memberikan dukungan dan kesetiaan kepada pemerintah. Bahkan ketika mereka dalam pembuanganpun, rakyat dan pemimpin dipanggil untuk bekerja mengusahakan kesejahteraan kota dimana mereka berada (Yeremia 29)

Dalam Perjanjian Baru, Yesus banyak mengecam para pegawai Negara (pegawai kekaisaran Romawi, termasuk para penguasa local seperti Herodes hingga ke pemungut cukai), dan juga para pegawai agama (imam, farisi, ahli Taurat, Saduki, dll) – karena dalam praktek mereka justru tidak menjadi pembawa damai dan keadilan, melainkan sebaliknya (bnd Matius 23). Itulah sebabnya – Yesus memberitakan bahwa dalam Kerajaan Allah, bukan kuasa yang dipentingkan, melainkan pelayanan. Bukan dilayani, melainkan untuk melayani (Markus 10:35-45).

Namun, kita juga membaca dalam Alkitab bahwa ada Pegawai Negara, yang bekerja sebagai tentara dengan pangkat perwira yang oleh Yesus sendiri menyebutnya sebagai seorang yang memiliki iman yang besar (Lukas 7:9). Apa dan bagaimana profil yang bersangkutan sehingga disebut “perwira yang beriman”? Dalam Lukas 7:1-10 kita menemukan 5 hal, yakni: Pertama, Seorang yang hidup dalam Kasih (tanpa membeda-bedakan, bahkan pembantunyapun dia kasihi – ayat 2, dan mengasihi orang Israel – ayat 5); Kedua, meminta pertolongan Tuhan dalam persoalan yang dihadapinya (ayat 3-4). Ketiga, menggunakan hartanya untuk persembahan kepada Tuhan (membangun rumah ibadah – ayat 5). Keempat, memiliki “kerendahan hati” (menyadari diri tidak layak menyambut Yesus, sang Mesias, dan juga tidak layak datang di hadapan Tuhan – ayat 6-7). Kelima,  Taat, percaya dan setia (Ayat-8).

Dalam surat-surat Paulus kita membaca bahwa nasehat kepada jemaat, baik yang pegawai negeri maupun yang non-pegawai negeri untuk hidup kudus di hadapan Tuhan, taat kepada pemerintah yang adalah diangkat dan ditetapkan oleh Allah, serta diminta untuk melakukan segala pekerjaan di dalam Tuhan Yesus (Kolose 3:17); dan apapun yang dilakukan seolah-olah dilakukan bagi Tuhan, dan bukan untuk manusia (Kolose 3:22).

Dalam perkembangan kekristenan, pekerjaan sebagai panggilan belumlah sebuah konsep yang umum bagi masyarakat kita. Konsep kita terhadap pekerjaan masih bersifat tradisional seperti yang umum dijumpai di negara-negara yang belum atau sedang berkembang. Kita bertani, memelihara ternak, berdagang, mengelola hutan, mengelola perkebunan, menangkap ikan, membangun gedung, menata kota, berpolitik, menjadi pegawai negeri, menjadi tentara atau polisi, menjadi jaksa atau hakim, ataupun sebagai pencipta lagu, dan berbagai pekerjaan lainnya – konsepnya masih tradisionil. Sikap yang menonjol masih ‘yang-penting-ada’, tanpa memikirkan akibat dari setiap tindakan atau pekerjaan terhadap bidang-bidang lain.

Oleh karena itu, mari kita belajar dari Etika Protestan yang melihat pekerjaan sebagai baruf, calling (panggilan). Max Weber, seorang keturunan Yahudi berhasil menemukan penghayatan dan pelaksanaan konsep tersebut dalam pandangan Martin Luther yang melihat beruf  sebagai tugas yang diberikan sebagai anugerah, dan dikehendaki oleh Tuhan yang harus dikerjakan dan dipertanggung-jawabkan. Bagi Luther umat percaya harus memenuhi kewajiban atau tugas yang diberikan kepada setiap individu dengan tingkat kedudukannya masing-masing di dunia. Lebih lanjut Luther mendasari pelaksanaan “panggilan itu” pada Sola Fide, sehingga “kerja dipahami sebagai panggilan hidup.”  Selanjutnya, Weber melihat bahwa komunitas Protestan yang Calvinis Puritan tidak menerima konsep tradisionil terhadap pekerjaan. Mereka tidak menerima pekerjaan begitu saja dan tidak berhenti sampai pada pekerjaan secara alami. Mereka tidak berhenti pada pikiran ‘yang-penting-punya-pekerjaan’. Mereka memikirkan apa yang harus mereka kerjakan dan mempertimbangkan apa yang dapat dilakukan dengan bakat yang dimiliki. Mereka menggumuli pekerjaan yang dapat berbuah banyak.

Bagi Kaum Puritan, mengikuti ajaran Luther, pekerjaan adalah panggilan hidup, yang harus diraih dan harus dilakukan dengan usaha-usaha yang serius dan keras. Mereka menerima keyakinan bahwa eksistensi manusia di dunia ini adalah untuk melaksanakan kehendak Tuhan Yang Maha Esa. Bagi orang Puritan mereka adalah buatan Allah, diciptakan untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya dan mereka berusaha hidup di dalam rencana Allah. Oleh sebab itu, konsep spesialisasi sangat berkembang di kalangan orang Puritan. Mereka mengembangkan bakat-bakat mereka sampai mencapai kesempurnaan. Mereka berpikir bahwa hanya dengan spesialisasi mereka akan jauh lebih efektif, lebih efisien dan lebih baik mengerjakan tugas; sebuah panggilan yang mulia.

Pentingnya spesialisasi bagi orang Puritan terangsang oleh teks-teks kuno seperti teks yang berbunyi, Pernahkah engkau melihat orang yang cakap dalam pekerjaannya? Di hadapan raja-raja ia akan berdiri, bukan di hadapan orang-orang yang hina.” (Amsal 22:29). Bagi orang Puritan, hanya mereka yang punya skill yang baik, khusus dan terlatih yang akan mampu memberikan gagasan-gagasan dan karya-karya yang baik, rasional dan jitu. Mereka punya keyakinan bahwa dengan keahlian-keahlian yang sangat baik mereka dapat mempengaruhi pejabat-pejabat yang duduk dalam posisi-posisi penting di pemerintahan dan memimpin perbaikan-perbaikan dunia. Jadi, orang Puritan terus-menerus mengembangkan kemampuan dan keahlian mereka di bidang yang mereka minati untuk memperbaiki dunia secara berkelanjutan.

Pandangan dan sikap kaum Puritan ini perlu dikembangkan dalam diri seorang Pegawai Negeri Sipil di Indonesia – sebab hanya dengan itu kondisi khaos  yang sedang melingkupi kehidupan dapat diperbaharui. Membaharui dunia dapat dimulai dengan membaharui diri sendiri. Sebab ada ungkapan mengatakan” “baharuilah dirimu untuk dapat membaharui yang lain”. (Penggalan dari materi untuk seminar ini disampaikan oleh Pendeta Tuhoni Telaumbanua, MSi, Ph.D – Ketua FKUB Kota Gunungsitoli Pulau Nias Sumatera Utara)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed