by

COAT-TAIL EFFECT (Psikologi-Politik)

Dalam Psikologi Politik, ada istilah yang dikenal dengan “coat-tail effect” kalau diterjemahkan ke Bahasa Indonesia  jadi “pengaruh ekor-jas”.

Untuk tahu apa itu “coat-tail effect” sepertinya harus bercerita dulu tentang Warren Harding, “suatu hari di tahun 1899, dua org berbincang2 sambil nunggu sepatunya beres di semir di taman belakang Globe Hotel di Richwood, Ohio. Yang satu namanya Warren Harding, seorang editor surat kabar dari kota kecil Marion, Ohio yg lg ikut pemilihan buat jadi anggota Senat. Yang satu lagi namanya Harry Daugherty, orang yang cerdas dan dalam dunia politik terkenal sebagai orang dibelakang layar. Harry Daugherty jatuh hati dengan “perawakan” dan “penampilan” dari Harding yang “seperti presiden”.

Usia Harding sekitar 35, semua anggota tubuhnya begitu menarik perhatian. Bahkan wartawan setempat mengatakan Harding ini “seperti Dewa Romawi”. Pada detik itu yang ada di pikiran Daugherty sepertinya “tidakkah orang ini bisa menjadi Presiden yang hebat?” Dan sejak saat itu (1899), Harding mulai dipoles oleh daugherty untuk jadi tokoh nasional.. menariknya, ia selalu menang karena “TAMPANG/WIBAWA”. Di tahun 1914, dia terpilih menjadi senat Amerika, walaupun tidak hadir saat debat masalah penting, yaitu soal UU tentang peredaran minuman keras.

Seiring bertambah usia, penampilan Harding semakin mapan. Rambut keperakan dan alis tebal membuat konstituen terpana dan menhatakan dia seperti “Julius Cesar”

Dengan tampang itu lah, banyak media yang memberitakan dari penampilan Harding ini “calon presiden yang tampan”, “sosok sempurna untuk presiden” di tahun 1920, Daugherty meyakinkan  Harding untuk maju mengikuti konvensi partai Republik. Harding menyingkirkan lima calon lain dengan pidato yg belakangan disebut “ungkapan kosong tanpa makna“, tapi gay dan pembawaannya mempesona!! Dan calon presiden Harding, yg asalnya dari desa, menjadi Warren Harding si presiden Amerika!!! Tragis, karena Harding menduduki jabatan presiden hanya dua setengah  tahun sebelum akhirnya meninggal mendadak karena stroke. Muncul spekulasi bahwa ia meninggal karena tidak tahan dengan tekanan publik yang menyuruh mundur.

Banyak sejarawan setuju (silahkan di cek), bahwa Harding adalah salah satu presiden yang sangat buruk dalam sejarah Amerika Serikat. Semenjak itu, political science (ilmu politik) berkembang pesat. Dan salahsatunya soal “coat-tail effect” ini para pakar saat itu ingin tau, apa yang  menyebabkan Amerika memilih “orang yang salah” untuk memimpin. Tinjauannya langsung sistem para pakar saat itu berpendapat, sistem pemilihan yang salah. Karena waktu itu presiden Harding dipilih terlebih dahulu, baru memilih parlemen karena kemenangan Harding, yang juga di claim merupakan kemenangan partai Republik merupakan “coat-tail effect”.

“Coat-Tail Effect” ini maksudnya adalah orang-orang yang sudah sangat  terpesona dengan sosok/citra seseorang hingga bahkan ketika dia mengibaskan “ekor” jasnya, luluh lah hati rakyat atau orang-orang di sekitarnya.

Kita tarik persamaan dengan tipe memilih orang Indonesia.”Coat-Tail Effect” ini sepertinya sangat berpengaruh untuk rakyat Indonesia. Karena segala sesuatunya itu masih melihat penampilan, dan fisik semata. Dan juga budaya patrilineal yang masih kental dan berakar di sendi-sendi kehidupan rakyat indonesia saat ini. Model sosiologis (memilih karena sama suku bangsa/agama/jenis kelamin/ras/ Golongan) dengan model rasional (memilih karena program) jadi tidak relevan lagi. Untuk membuat calon pemilih kepincut, salah satu cara yang paling efisien ialah model psikologis. Salah satunya lewat “coat-tail effect” ini.

Jadi itulah kenyataan “coat-tail effect“.

Cara mencegahnya?

Sulit, karena sangat sulit untuk mengajak orang Berpikir Rasional.

Sumber Google

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed