by

Kabupaten Teminabuan atau Trikora? Pergantian Nama Daerah Tidaklah Simpel

TEMINABUAN, dprdsorongselatan.net – Pergantian nama, bagi sebagian orang dipercaya sebagai solusi dan harapan mengubah nasib menjadi lebih baik. Tidak hanya berlaku pada manusia, fenomena ini ternyata terjadi juga di ranah nasional. Tetapi, untuk ganti nama daerah tidaklah sesimpel membalik telapak tangan. Ada banyak syarat dan tahapan yang harus dilalui.

Berikut contoh perubahan nama-nama daerah di Indonesia yang kemungkinan akan diikuti juga dengan perubahan nama Kabupaten Sorong Selatan Provinsi Papua Barat menjadi Kabupaten Teminabuan atau Kabupaten Trikora.

Sebelum lebih jauh membaca contoh perubahan nama daerah, sebagai pengingat bahwa nama Kabupaten Sorong Selatan memang mulai diwacanakan untuk ganti nama. Hal itu juga menjadi akan pembeda dari nama Kabupaten Sorong ataupun Kota Sorong. Sebab, bagi sebagian besar orang di luar Papua Barat, penyebutan Kota Sorong, Kabupaten Sorong dan Kabupaten Sorong selatan seolah identic dan tidak spesifik.

Makassar dan Ujung Pandang

Ternyata, Makassar merupakan nama yang sejak awal digunakan di ibu kota provinsi Sulawesi Selatan ini. Namun, melalui Peraturan Pemerintah No. 51 tahun 1971, nama Ujung Pandang secara resmi digunakan dengan alasan politik. Disebutkan, Makassar sesungguhnya adalah nama salah satu suku bangsa, sedangkan di lokasi tersebut tidak seluruh penduduknya beretnik Makassar.

Alasan lain, saat itu tengah dilakukan pemekaran wilayah Makassar dengan kompensasi berupa pergantian nama.

Ujung Pandang sendiri adalah nama sebuah kampung di Makassar. Nama Ujung Pandang muncul pada masa pemerintahan Raja Gowa ke-X, Tunipalangga, yang pada tahun 1545 mendirikan benteng bernama sama.

Sontak, meski dilatarbelakangi dengan alasan nama yang tidak merepresentasikan seluruh penduduk, pergantian nama ini menimbulkan protes dan kontra dari banyak kalangan, khususnya budayawan, seniman, hingga sejarawan.

Faktanya, di dunia internasional, nama Makassar memang jauh lebih dikenal dibandingkan Ujung Pandang. Bahkan, ada yang menyebutkan bahwa tragedi tenggelamnya Tampomas tahun 1981 (di mana kapal mulai terbakar tepat pada hari ini, 37 tahun yang lalu), sedikit banyak bersinggungan dengan nama Ujung Pandang.

Dikatakan, Tampomas mengirim sinyal darurat dan berhasil ditangkap oleh beberapa kapal asing. Namun, dalam peta, mereka tidak menemukan tempat bernama Ujung Pandang karena Makassar-lah yang sejak dulu tertera di sana.

Beberapa tahun kemudian, setelah banyak seminar dan lokakarya yang menolak nama Ujung Pandang tidak di-notice pihak DPRD setempat, nama Makassar akhirnya kembali di masa akhir jabatan Presiden B.J. Habibie.

Pergantian nama ini tentu punya makna. Nama “Makassar” sendiri ternyata berasal dari kata “Mangkasarak” yang berarti menampakkan diri atau bersifat terbuka, serta berterus terang (jujur).

Papua dan Irian Jaya

Papua memiliki sejarah nama yang cukup panjang jika dirunut sedari awal. Pulau yang berada di paling timur Indonesia ini mulanya disebut dengan banyak nama, termasuk Nieuw Guinea oleh pihak Belanda.

Di tahun 1961, UNTEA (Pemerintahan Sementara PBB) menyebut daerah ini dengan nama West New Guinea atau West Irian, yang kemudian pada tahun 1963 disebut sebagai Irian Barat. Pernah pula tempat ini bernama Papua Barat setelah sebagian aktivis perjuangan kemerdekaan memproklamasikan kemerdekaan Papua Barat tanggal 1 Juli 1971.

Perjalanan selanjutnya, pemerintah Republik Indonesia di Papua pada tahun 1973 mengubah nama Irian Barat menjadi Irian Jaya.

Selepas tahun 2000, nama Irian Jaya diputuskan berubah kembali menjadi Papua, hingga saat ini.

Perubahan nama ini dilaksanakan pada masa pemerintahan Presiden Abdurahman Wahid (Gus Dur) dan diselingi beberapa isu. Konon, ada yang menyebutkan bahwa permintaan pergantian nama ini berbau politik, yaitu didasarkan pada akronim Irian yang berupa “Ikut Republik Indonesia Anti Nederland”.

Kenapa Papua? Apa makna nama Papua?

Dari Tidore, nama yang ditujukan untuk pulau ini berasal dari kata “Papa-Ua”, yang kemudian menjadi “Papua”. Kata ini memberi gambaran bahwa di Papua tidak ada seorang raja yang memerintah sejak awal mula.

Selain makna tadi, ada juga yang mengartikan “Papua” dengan makna negatif. Tak sedikit yang menganggap Papua adalah pulau dengan penduduk yang primitif, bodoh, dan tertinggal. Apalagi, kata “Papua” juga bermakna “berambut keriting”.

Menariknya, respon penduduk terhadap nama Papua cukup baik. Alasannya, nama tersebut toh memang benar mencerminkan identitas diri mereka (berambut keriting dan berkulit hitam). Namun demikian, tentu saja mereka tidak setuju dengan ejekan-ejekan yang dilontarkan tadi. Sebab, pada kenyataannya orang-orang Papua tidaklah bodoh dan tidak primitif jika kita mampu melihat dan “masuk” dalam adat dan budaya Papua yang sebenarnya. Bahwa “tertinggal” memang benar. Hal itupun terjadi karena berbagai sebab politis di tanah air.

Daerah lain yang sudah berganti nama adalah Kabupaten Pontianak menjadi Kabupaten Mempawah. Kemudian, yang sedang gencar disosialisasikan dan diperjuangkan saat ini adalah Kabupaten Ciamis sedang mengupayakan pergantian nama Ciamis menjadi Galuh, yang sebenarnya merupakan nama awal mereka (seperti kasus nama Makassar dan Ujung Pandang). (TS)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed