by

“Kau, Saya, Dia”, Satu Tungku Tiga Batu, Penguat Toleransi di Fakfak Papua Barat

TEMINABUAN, dprdsorongselatan.net – Beberapa bocah perempuan mengenakan kebaya dominan berwarna putih dan kain bawahan batik menari di halaman gereja. Mereka menari dengan gembira diiringi alat musik pukul yang dimainkan oleh beberapa bocah laki-laki untuk menyambut tamu yang datang di Pondok Baca Brongkendik, perpustakaan kampung di Distrik Fakfak Tengah, Kabupaten Fakfak, Papua Barat, pada akhir Agustus 2018.

Pondok Baca Brongkendik berada tepat di sebelah gereja. Setelah selesai menari, mereka bermain di halaman gereja yang cukup luas. Reki Remos Siner (37), pengelola pondok baca mengatakan, mereka diperbolehkan memanfaatkan halaman gereja untuk aktivitas pondok baca yang telah didirikan sejak tahun 2008.

“Pihak gereja mengizinkan kami untuk menggunakan halaman gereja untuk aktivitas rumah baca. Tapi jika ada ibadah, ya kami berhenti,” jelas Reki.

Saat ini, ada sekitar 50-an anak yang berasal dari tiga desa di Distrik Fakfak Tengah yang aktif bergabung di rumah baca tersebut. Walaupun bersebelahan dengan gereja, pondok baca tersebut terbuka untuk semua anak yang ada di distrik itu.

“Pondok baca ini milik kampung jadi semua bisa gabung. Dari semua agama. Kami tidak pernah membeda-bedakan. Apalagi kami memegang prinsip satu tungku tiga batu yang dari suku besar Mbahham Matta Wuh yang mendiami jazirah Onim Fakfak sejak dulu,” jelas Reki.

Lelaki yang memeluk agama Kristen tersebut mengaku filosofi satu tungku tiga batu tersebut dikenalkan secara turun temurun oleh nenek moyang mereka sebagai dasar kerukunan di Fakfak Papua Barat. Tungku adalah simbol dari kehidupan, sedangkan tiga batu adalah simbol dari “kau”, “saya” dan “dia” yang membuhul perbedaan baik agama, suku, status sosial dalam satu wadah persaudaraan.

“Banyak kerabat, kawan saya yang muslim dan kami baik-baik saja. Hidup berdampingan, tidak pernah ada masalah besar yang disebabkan keyakinan yang berbeda,” kata Reki sambil tersenyum.

Ia menceritakan di keluarga istrinya jika berpindah agama, maka akan tetap menggunakan nama marga sebagai bentuk identitas. Hanya saja mereka akan mendapatkan nama baru sesuai agama yang mereka ikuti.

Hal senada juga dijelaskan oleh Fauzhya (26), warga kompleks Pantai Raja Fakfak. Perempuan berjilbab tersebut menjelaskan, filosofi satu tungku tiga batu secara spontan mengajarkan bahwa perbedaan justru menjadi sarana untuk menyatukan.

”Nyaris kami tidak pernah bahkan tidak ada waktu untuk membeda-bedakan agama satu dengan yang lain. Satu tungku tiga batu ini senafas dengan Bhineka Tunggal Ika,” jelasnya. (Ira Rachmawati)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed