by

Nelson Mandela, Berjuang Memberontak Apartheid

TEMINABUAN, dprdsorongselatan.net – Perlawanan terhadap sistem pemisahan ras atau apartheid yang diterapkan pemerintah Afrika Selatan tak bisa dilepaskan oleh figur bernama Nelson Mandela, yang meninggal pada 5 Desember 2013. Selama bertahun-tahun, dia menghabiskan waktu di penjara untuk memperjuangkan hak warga kulit hitam. Semua terbayarkan ketika Mandela berhasil menjadi presiden kulit hitam pertama di Afrika Selatan pada 1994 hingga 1999. Sebelum itu, dia mendapat penghargaan Nobel Perdamaian pada 1993 dan akan terus menjadi simbol perdamaian dunia.

Awal kehidupan Nelson Rolihlahla Mandela lahir di sebuah desa bernama Mvezo, wilayah tenggara Afrika Selatan yang dikenal sebagai Transkei. Ayahnya, Nkosi Mphakanyiswa Gadla Mandela, merupakan kepala desa dan anggota keluarga dari suku Thembu yang berbicara bahasa Xhosa. Sementara ibunya bernama Nonqaphi Nosekeni.

Sebagai seorang anak laki-laki, Mandel tumbuh dalam perlindungan tetua dan kepala suku yang membuatnya mencintai warisan Afrika. Pada 1930, ayahnya meninggal dunia, dan Mandela yang berusia 12 tahun di bawah wali Jongintaba, seorang Wali Raja Tembu yang tinggal di Great Place di Mqhekezweni.

Dia menempuh pendidikan di Qunu. Kemudian seorang guru memberikannya nama Nelson, sesuai dengan aturan sekolah agar murid diberikan nama Kristen. Mendela kemudian berupaya untuk mendapat gelar Bachelor of Arts di University College Fort Hare, namun dia tidak pernah menyelesaikannya karena bergabung dengan aksi protes mahasiswa. Kembali ke Great Place di Mqhekezweni, Raja begitu geram.

Dia mengancam akan mencarikan istri bagi Mandela dan sepupunya, Justin, apabila mereka tidak kembali ke Fort Hare. Keduanya memutuskan untuk kabur ke Johannesburg dan sampai pada 1941. Di sana, Mandela bekerja sebagai petugas keamanan tambang dan kemudian menjadi agen tanah. Pada akhirnya, dia berhasil merampungkan studinya dengan meraih gelar BA melalui University of South Afrika dan kembali ke Fort Hare untuk kelulusannya pada 1943.

Masuk politik Mandela aktif terlibat dalam gerakan anti-apartheid dan bergabung dengan Kongres Nasional Afrika (ANC) pada 1942. Di ANC, ada sekelompok kecil pemuda Afrika yang bersatu, menyebut diri sebagai Liga Pemuda Kongres Nasional Afrika (ANCYL).

Mandela menikah dengan Evelyn Ntoko Mase, seorang perawat, pada 1944. Keduanya dikaruniai 4 orang anak. Namun, keduanya bercerai pada 1958. Pada 1949, ANC resmi mengadopsi metode liga pemuda dalam mendorong gerakan akar rumput masal untuk menggelar boikot, pemogokan, pembangkangan, dan tidak bekerja sama. Gerakan itu bertujuan mencapai kebijakan kewarganegaraan penuh, redistribusi tanah, hak-hak serikat pekerjaan, dan pendidikan gratis serta wajib bagi semua anak.

Selama 20 tahun, Mandela mengarahkan tindakan damai, tanpa kekerasan, menentang pemerintah Afrika Selatan dan kebijakan rasialnya. Dia mendirikan firma hukum Mandela and Tambo, bermitra dengan Oliver Tambo, rekan mahasiswanya cemerlang di Fort Hare. Firma tersebut menyediakan layanan hukum gratis dan berbiaya rendah bagi orang kulit hitam.

Pada 1956, Mandela dan 150 orang lainnya ditangkap atas tuduhan berkhianat. Pada 1961, Mandela ikut mendirikan Umkhonto we Sizwe atau MK, sebuah cabang bersenjata ANC yang bertugas menyabotase dan menggunakan taktik perang gerilya untik mengakhiri apartheid. Dia mengatur pemogokan pekerja nasional selama tiga hari. Dia kembali memimpin aksi serupa pada tahun berikutnya dan dijatuhi hukuman lima tahun penjara.

Pada 1963, Mandela diseret ke pengadilan lagi. Kali ini, dia dan 10 pemimpin ANC lainnya dijatuhi hukuman penjara seumur hidup karena pelanggaran politik, termasuk sabotase. Selama 27 tahun, Mandela menghabiskan waktunya dengan mendekam di penjara, dari November 1962 sampai Februari 1990. 18 tahun dari 27 tahun itu, dia dipenjara di Robben Island.

Di sana, dia mengidap tuberkulosis. Sebagai tahanan politik kulit hitam, Mandela mendapat perawatan terendah. Meski dipenjara, dia berhasil mendapat gelar Sarjana Hukum melalui program korespondensi Universitas London. Pada 1981, agen intelijen Afrika Selatan Gordon Winter mengungkap adanya plot yang dirancang pemerintah Afrika Selatan untuk mengatur pelarian Mandela. Dengan begitu, pihak berwenang dapat menembaknya selama penangkapan, namun skenario itu digagalkan oleh intelijen Inggris.

Pada 1985, Presiden PW Botha menawarkan pembebasan Mandela asalkan perlawanan bersenjata dihentikan. Tawaran itu ditolak. Meningkatnya tekanan dari lokal dan internasional untuk pembebasannya, pemerintah terus membahasnya namun tak ada mencapai kesepakatan.

Menggantikan Botha yang terkena stroke, Frederik Willem de Klerk mengumumkan pembebasan Mandela pada 11 Februari 1990. Dia juga membatalkan pemblokiran terhadap ANC, menghapus pembatasan pada kelompok politik dan membekukan eksekusi.

Pada tahun 1993, Nelson Mandela dan Presiden de Klerk secara bersama-sama dianugerahi penghargaan Nobel Perdamaian. Pada 27 April 1994, Afrika Selatan menggelar pemilu demokratis pertama. Nelson Mandela terpilih menjadi presiden kulit hitan pertama pada 10 Mei 1994, ketika usianya 77 tahun.

Dari 1994 hingga Juni 1999, Presiden Mandela bekerja untuk mewujudkan transisi dari aturan minoritas dan apartheid menjadi aturan mayoritas kulit hitam. Pada ulang tahunnya yang ke-80, Mandela menikah dengan Graca Machel, yang akan menemani hingga akhir hayatnya pada 2013. Pada 1996, Mandela menandatangani undang-undang konstitusi baru untuk negara, mendirikan pemerintahan pusat yang kuat, dan menjamin hak-hak minoritas serta kebebasan berekspresi.

Sesuai dengan janjinya, Mandela mengundurkan diri pada 1999 setelah satu masa jabatan sebagai presiden. Meski demikian, dia terus bekerja pada Nelson Mandela Children’s Fund yang dia dirikan pada 1995. Selain itu, dia juga membentuk Yayasan Nelson Mandela dan Yayasan Mandela Rhodes.

Warga Afrika Selatan bergantian memberikan penghormatan terakhir untuk mendiang Nelson Mandela, yang jasadnya disemayamkan di Union Buildings, Pretoria, tempat dia dilantik menjadi presiden kulit hitam pertama Afsel 19 tahun lalu. Selanjutnya, jasad Mandela akan diterbangkan ke kampung halamannya di Qunu, untuk dimakamkan.(MARKUS SCHREIBER / POOL / AFP)

Kematian Pada 5 Desember 2013 di usia 95 tahun, Nelson Mandela meninggal dunia di rumahnya di Johannesburg, Afrika Selatan. Setelah menderita infeksi paru-paru pada Januari 2011, Mandela sempat dirawat di rumah sakit di Johannesburg untuk menjalani operasi akibat penyakit perut pada awal 2012. Pada 2009, ulang tahun Mandela pada 18 Juli dinyatakan sebagai Hari Mandela, yaitu hari internasional untuk mempromosikan perdamaian global dan merayakan warisan pemimpin Afrika Selatan. (Veronika Yasinta)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed