by

Perlu Dibangun Pasar Induk di Moswaren

TEMINABUAN, dprdsorongselatankab.id – Walaupun jumlah usaha tani dari tahun ke tahun semakin berkurang,namun upaya-upaya untuk mempertahankan/meningkatkan produksi sektor pertanian perlu lebih diperhatikan. Sebab sektor ini mempunyai dampak penting terhadap kelangsungan ekonomi bangsa. Untuk mewujudkannya dibutuhkan proses transformasi melalui pembangunan agribisnis sehingga dapat mewujudkan pembangunan wilayah yang seimbang khususnya pada sektor pertanian.

Di negara agraris dalam pembangunan perekonomian sektor pertanian memiliki peranan yang sangat penting karena sektor pertanian dapat menyerap tenaga kerja paling besar sehingga dapat mengurangi tingkat pengangguran, sektor pertanian dapat menjadi penghasil devisa dari hasil ekspor produk-produk pertanian komersial, sektor pertanian sebagai penghasil pangan dan bahan baku bagi sektor pertanian itu sendiri, bagi penduduk non-pertanian dan bagi pengembang industri

Pembangunan wilayah yang ideal adalah adanya sinergisitas antarwilayah agar saling berinteraksi dan saling memperkuat, sehingga nilai tambah yang diperoleh dari proses interaksi terdistribusi secara adil dan proporsional sesuai peran dan potensi sumberdaya yang dimiliki masing-masing wilayah.

Manurut anggota DPRD Kabupaten Sorong Selatan, Yosias Homer, walau daerah pemilihannya di Moswaren memiliki infrastruktur jalan, transportasi atau pasar yang lebih baik dari beberapa wilayah yang lain di Kabupetan Sorong Selatan, namun masyarakat petani asli Papua masih belum berdaya atau kondisi ekonominya rendah (re latif sama dengan petani asli Papua di wilayah lain) seperti di kabupaten lainnya di Provinsi Papua Barat yang belum berkembang
Beberapa waktu yang lalu di Teminabuan Yosias Homer menjelaskan, bahwa ketersediaan aksesibilitas dari kampung ke kota distrik, maupun dari kota distrik ke Kabupaten Sorong Selatan belum tersedia secara merata. Walau demikian,secara obyektif Yosias Homer juga menejlaskan bahwa keunggulan sumber daya alam (wilayah hutan adat atau hutan sagu) di beberapa wilayah Sorong Selatan juga merupakan titik lemah yang cenderung memanjakan petani asli Papua, sehingga turut mempengaruhi kinerja dalam menggarap lahan pertanian.

Masalah lain dikemukakan Yosias Homer adalah tentang kapasitas petani asli Papua dalam pendidikan formal dan non-formal serta sikap dan ketrampilan (kinerja) dalam bercocok tanam di wilayah ini, masih rendah dibandingkan petani non-Papua.

Dijelaskan oleh Yosias Homer, Sorong Selatan memiliki potensi yang besar dalam mengembangkan sektor pertaniann. Salah satu distrik yang memiliki potensi pertanian yang besar adalah Distrik Moswaren. Tanah yang subur merupakan kelebihan distrik ini dibandingkan distrik-distrik yang lain. Selain itu, di Moswaren juga terdapat banyak aliran sungai, yang cukup untuk mengaliri sawah dan kebun. Moswaren juga sudah memiliki gapoktan dan KUD.

Ada 2 hal yang bisa dipakai untuk mengakselerasi perkembangan pertanian Moswaren. Pertama pengembangan pupuk kompos. Kedua pembangunan pasar induk. Saat ini, petani Moswaren masih sangat bergantung dengan pupuk urea, yang harus mereka beli dengan harga mahal. Penggunaan urea ini sebenarnya bisa digantikan dengan kompos. Moswaren memiliki bahan baku yang cukup untuk mengembangkan kompos. Mereka mempunyai hewan ternak, yang kotorannya bisa dipakai sebagai bahan baku kompos. Dengan dipakainya kompos, maka biaya produksi pertanian mereka bisa jauh menurun

Sangat disayangkan, daerah sesubur Moswaren tidak memiliki pasar tersendiri. Karena pada akhirnya, tiap-tiap petani harus membawa hasil panennya sendiri ke Teminabuan yang waktu tempuhnya 1,5 jam. Jika pemerintah bisa membangun pasar induk, petani bisa menjual hasil buminya disana. Lalu dari pasar induk tersebut, hasil bumi didistribusikan keseluruh wilayah Sorong Selatan.

Sedangkan terkait dengan koperasi, Sorong Selatan memiliki 115 koperasi, yang tersebar di 14 distrik. Mayoritas koperasi tersebut merupakan koperasi konsumsi atau mereka menyebutnya koperasi dagang. Dari 115 koperasi yang terdaftar, sebagian besar hanya papan nama saja, tapi usaha nya tidak berjalan. Hal ini terjadi karena banyak masyarakat yang mendirikan koperasi agar mendapat subsidi dari pemerintah. Sehingga, ada pihak-pihak yang membawa kabur dana subsidi pemerintah tersebut setelah mendapatkannya.

Permasalahan ini merambat hingga banyak koperasi yang tidak memenuhi kelengkapannya sebagai koperasi, seperti tidak memiliki struktur koperasi yang jelas, pembagian SHU, simpanan wajib, simpanan pokok, dan lainnya. Banyak masyarakat yang mengklaim usaha pribadinya sebagai koperasi, sehingga mereka mendapat dana bantuan pemerintah.

Salah satu permasalahan koperasi yang banyak dikeluhkan oleh para pembina koperasi adalah mahalnya biaya pemasaran, produksi, dan kecilnya daya beli. Permasalahan ini yang membuat mereka pesimis dengan perkembangan koperasi.
Di Moswaren misalnya diketahui bahwa biaya pemasaran disana sangatlah mahal, karena daerahnya cukup terpencil. Pendapat-pendapat tersebut merupakan kesalahan mendasar dalam logika pembentukan koperasi. Para pembina koperasi salah membedakan antara koperasi dengan UKM. Koperasi diposisikan seperti UKM pada umumnya, sehingga menghadapi permasalahan-permasalahan tersebut. Harus ada perubahan paradigma disini. Koperasi dibentuk untuk menyelesaikan permasalahan, bukan menambah masalah. Ketika ada permasalahan biaya produksi, maka para UKM membentuk koperasi untuk mengurangi biaya produksi mereka. Ketika ada permasalahan biaya pemasaran, maka para UKM yang ada bisa membentuk koperasi untuk melakukan pemasaran secara bersama. Logika mendasar seperti ini yang kurang tertanam pada pembina koperasi di Sorong Selatan.

Pada hakikatnya, koperasi adalah bentuk kerjasama masyarakat dalam menyelesaikan tantangan ekonomi yang ada. Koperasi mengandung nilai-nilai kerjasama dan kekeluargaan dalam penjalanannya. Karena itulah, koperasi ditempat sebagai soko guru ekonomi bangsa. Koperasi merupakan sarana ampuh untuk meningkatkan kemampuan ekonomi masyarakat kelas bawah. Dengan koperasi, masyarakat kelas bawah dapat bekerjasama, menyatukan kekuatan untuk mengahadapi persaingan ditingkat yang lebih tinggi. (TS)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed