by

Renungan Akhir Tahun 2018: “Hidup Umat Kristiani, Hidup karena Iman”

“sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat” (2 Korintus 5:7)

Oleh: Marthen Saflesa, Wakil Ketua I DPRD Kabupaten Sorong Selatan Provinsi Papua Barat

TEMINABUAN – Pernahkah kita berfikir apakah sebenarnya yang membuat seseorang itu bisa bertahan, bisa “survive” dalam kehidupannya? Apakah oleh karena pendidikannya, kekayaannya, nasihat orang tuanya, nilai-nilai agama, lokal wisdom, filsafat hidup? Acap kita heran dan tertegun menyaksikan sosok orang yang membangun rumahnya dibawah jalan layang, atau disamping SUTET (saluran udara tegangan ekstra tinggi) dan mereka enjoy dengan hidup seperti itu, bahkan menikmatinya setiap hari dengan raut muka ikhlas. Dibanding dengan mereka yang tinggal di apartemen yang hampir setiap hari menghadapi kegaduhan internal, amat jauh berbeda. Selain aspek-aspek yang disebutkan diatas tadi yang memang penting dalam membangun sebuah kehidupan, ada hal yang amat penting yang tak boleh dilupakan agar kita survive dalam kehudupan ini apapun persoalan yang kita hadapi.

Marthen Saflesa, Wakil Ketua I DPRD Kabupaten Sorong Selatan Provinsi Papua Barat

Pemaknaan hidup yang luas, komprehensif dan terarah ke perspektif transendental, lebih membuat seseorang survive, bertahan dalam hidupnya. Hidup tidak boleh dimaknai secara “tunggal”, singular dan konvensional. Hidup bukan hanya kini dan disini. Hidup mengandung perspektif “keakanan” dan “transendental”. Makna hidup harus dilihat dari banyak “angle”. Hidup yang dimaknai dalam perspektif keakanan dan transendental adalah hidup yang dijalani penuh tanggungjawab sebagai anugerah Tuhan, oleh karena itu ada optimisme, ada kebesaran jiwa dalam menjalani proses berkehidupan seperti itu.

Tanpa memahami bahwa hidup itu dinamik, tidak statis dan punya dimensi keakanan tak mungkin seorang pengais sampah bisa tetap survive dan ‘menikmati’ pekerjaan itu dengan tetap enjoy. Tanpa roh optimisme dan kebesaran jiwa tak mungkin seseorang membangun gubuknya disisi tower Sutet yang sewaktu-waktu bisa mengakhiri hidupnya.

Kebesaran jiwa tidak mempertimbangkan keberbedaan fraksi dan atau pilihan politik. Kebesaran jiwa berada diatas pikiran sektarian dan primordialistik. Pada suatu saat Abraham Lincoln bersama lawan politiknya bersama-sama mengadakan perjalanan keliling di Illinois untuk melakukan debat publik. Kegiatan itu sesuai dengan kebisaan yang berlaku disana pada zaman itu. Lincoln mengendarai kereta kuda milik lawan politiknya. Ketika mereka bertemu dengan sekrlompok petani Lincoln berkata : “Aku terlalu miskin untuk memiliki kereta kuda sendiri tetapi sahabatku ini sudah berbaik hati mengajakku naik di kereta kuda miliknya. Aku ingin anda semua nanti memilihku. Namun jika tidak pilihlah lawanku ini karena ia adalah seorang laki-laki yang baik”

Menarik sekali ungkapan Paulus yang dikutip di awal bagian ini. “Hidup kami ini adalah hidup karena *percaya* bukan karena *melihat*; narasi bahasa Inggris agak bisa lebih dinikmati dimensi puitisnya : “we live by _faith_ not by _*sight*”. Berdasarkan pengalaman hidupnya yang acapkali didera derita karena memberitakan Injil Kristus, Paulus tiba pada pernyataan itu. Ia memiliki tafsir sendiri tentang apa dan bagaimana hidup itu. Hidup bukan sekadar ‘mengalir’ saja, atau sekadar’ mengikuti arah angin’, mengikuti ‘gendang’ orang lain. Hidup bukanlah panggung sandiwara, dimana orang bisa _beracting_ sesukanya tanpa skenario yang jelas. Hidup bukanlah ‘menghabiskan hari ini’ seperti ocehan filsuf : ‘mari kita makan dan minum karena esok kita akan mati.’ Hidup sama sekali tidak berperan seperti ‘bajing loncat’ atau seperti ‘bunglon”. Bagi Paulus hidup itu sesuatu yang “agung”, “mulia”, “civilized”. Ia melihat hidup dalam sebuah “framing” yang sama sekali lain, yang bukan sekuler dan profan, yang “kini dan disini”. Itulah sebabnya ia dengan nuansa yang kontradiktif ia menggunakan diksi *percaya* dan *melihat*.

Paulus yang menulis Surat ini sekitar akhir tahun 56, memang mengalami pergumulan hebat di Jemaat ini. Ada yang mengeritik Paulus dengan tajam yang bahkan meragukan jabatan kerasulannya. Paulus menyatakan sikap yang jelas terhadap oknum atau beberapa orang yang mengeritiknya (vide 2 Kor 10:1-11 dst). Paulus menyatakan bahwa para pengeritik itu adalah “rasul-rasul palsu” (11:13). Pergumulan yang ia hadapi itu, berbagai interaksi yang terjadi dengan kelompok penentang, yang jelas mempengaruhi kehidupan berjemaat yang kemudian melahirkan pikiran-pikiran teologis yang cerdasbernas yang ia ungkapkan dalam suratnya.

Menurut Paulus kehidupan kita sebagai umat kristiani harus berbasis iman/percaya/faith, dan bukan pada melihat/sight. Ada keberbedaan dan bahkan paradoks pada 2 kata itu. Iman kita mengacu dan berdasar kepada Yesus Kristus Juruselamat dunia, yang telah datang ketengah sejarah manusia, membebaskan manusia dari belenggu dosa dan menetapkannya sebagai pewaris Kerajaan Allah. Aktivitas *melihat* tidak selalu menopang keberimanan kita, bahkan bisa saja mereduksi atau menggoyahkan fun damen iman kita. Obyek yang kita lihat bukan hanya lambang salib, altar, mimbar, Alkitab, berbagai buku nyanyian Gereja, patung Maria, rosario dan sebagainya. Dunia sekuler yang profan menawarkan bahkan menggoda kita untuk melihat berbagai obyek yang bisa membuat kita “keluar” dari keyakinan iman kita. Mata kita yang jernih yang sudah dioperasi katarak atau dilasik, atau menggunakan contact lens, berpeluang untuk melahirkan tindakan yang bertentangan dengan moral, etik dan agama. (ts)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed