by

Sekilas Kehidupan di Rumah Perahu Asal Distrik Kokoda

KOKODA, dprdsorongselatan.net – Melihat rumah perahu yang hilir mudik di sungai sekitar Distrik Kokoda, Sorong Selatan, sebagian orang yang masih asing dengan aktivitas tersebut pasti bertanya-tanya. Bagaimana kehidupan di rumah perahu? Bagaimana mereka bisa bertahan hidup dalam kondisi seperti itu? Apa yang mereka lakukan jika hujan lebat turun? Atau ada badai?

Dengan panjang kira-kira 3-4 meter dan lebar 2 meter, rumah perahu kecil saja. Wujudnya seperti kole-kole (perahu bercadik) yang dilengkapi dinding sepanjang 1-2 meter. Atapnya dari pelepah sagu atau rotan. Maka, jika hujan turun, mereka akan segera ke tepian.

Di dalam perahu ada kasur lipat, bantal, selimut, serta perkakas dapur semisal piring, panci, dan tungku kayu. Alat pancing dan berburu juga ada. Tidak mewah memang, namun cukup untuk bertahan.

Kehidupan di Rumah Perahu

Saat penghuni rumah perahu sedang melakukan perjalanan jauh, mereka biasanya akan berhenti di tepian sungai agak lama untuk mencari persediaan makanan. Dalam perjalanan jarak dekat, mereka tetap singgah di tepian, namun hanya sebentar. Bahan makanan yang mereka cari bermacam-macam, dari mulai sagu, pinang, petatas (ubi), kasbi (umbi talas), ikan, sayuran, serta kayu bakar untuk memasak.

Saat-saat menepi ini juga mereka manfaatkan untuk mengecek atap. Kalau ada yang perlu diperbaiki, mereka akan mencari bahannya di hutan. Selain mencari bahan makanan dan memperbaiki perahu, mereka juga melakukan aktivitas lainnya seperti mengambil dan memasak air, mencuci pakaian, dan mencari ikan.

Sebelum mencari ikan, mengambil air, dan mencuci, penghuni rumah perahu biasanya melepaskan bagian atas rumah perahunya dan meninggalkannya sejenak di tepian hutan dekat mereka menepi. Setelah bagian atas dilepas, rumah perahu itu berubah jadi kole-kole yang lebih mudah untuk didayung ke mana-mana.

Pembagian tugas dalam keluarga, antara ibu, ayah, dan anak, berbeda-beda tergantung kesepakatan tiap keluarga. Ada keluarga yang memberikan tugas kepada anak untuk menunggui bagian rumah perahu yang dilepas sambil menjaga stok makanan. Sementara, sang ibu dan ayah mengayuh kole-kole untuk mengambil air, mencuci pakaian, dan memancing ikan. Ada pula keluarga yang ayah dan anaknya mencari air dan ikan, sementara ibu mencari bahan makanan di hutan.

Akan tetapi ada juga keluarga yang tidak memberikan tanggung jawab spesifik pada setiap anggota keluarga dan melakukan semua aktivitas harian secara bersama-sama.

Sebagian Dijual Jika Makanan Berlebih

Jika bahan makanan yang diperoleh melimpah, mereka akan menjualnya ke kampung terdekat. Sagu, misalnya, bisa dijual dalam keadaan kering atau sudah dibakar. Hasil penjualan itu digunakan untuk membeli bahan makanan yang tak bisa diperoleh di hutan, misalnya minyak goreng, telur, atau rica (cabai).

Jika ada anggota keluarga yang sakit, biasanya mereka hanya mengandalkan obat tradisional dari dedaunan berkhasiat yang mereka dapat di hutan.

Sederhana ‘kan cara mereka bertahan hidup? Kehidupan di rumah perahu mengajarkan banyak hal pada kita, yang tinggal di rumah “biasa.” Jika orang-orang rumah perahu saja bisa hidup tenang di atas air yang mengalir, kita juga pasti bisa bahagia tinggal di darat.

Kebahagiaan tak tergantung seberapa besar atau kecilnya rumahmu, namun seberapa bersyukur kamu atas karunia yang sudah diberikan oleh-Nya. (Dewie Suwiryo)

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed